Selasa, 23 Oktober 2012

Menyiasati pembangunan rumah di lahan sempit

Harga tanah dari tahun ke tahun yang senantiasa mengalami kenaikan adalah suatu kepastian yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Terlebih jika kita tinggal di kota besar seperti Jakarta, maka impian untuk tinggal di dalam kota seperti terasa hanya sebatas impian semata. Bagi yang mempunyai dana terbatas maka harus mengalah dengan mencari hunian yang lebih terjangkau di luar kota.


Dengan pertimbangan ingin memiliki rumah yang dekat dengan tempat bekerja atau terhindar dari kemacetan sebenarnya kita bisa saja memiliki rumah di tengah kota walaupun dana kita terbatas. Namun dengan dana yang terbatas konsekuensinya luas tanah yang dapat kita beli menjadi lebih kecil. Hunian di kota-kota besar di Jepang banyak yang dibangun di atas lahan yang sempit karena sangat mahalnya harga tanah di sana. Namun hal tersebut tidaklah mengurangi keindahan desain serta kenyamanan bagi penghuninya. 


Sebagai contoh adalah sebuah rumah di Jepang ini yang proyeknya disebut sebagai M House. Rumah ini didirikan di atas tanah dengan lebar hanya 5 meter dan panjang 25 meter. Dengan luas lahan sebesar 125 meter persegi bentuk dasar bangunan ini terdiri atas dua lantai. Lantai dasar sebagai tempat parkir yang mampu menampung mobil sampai 2 unit. Karena terbatasnya lahan maka di lantai dasar setiap jengkal lahan sangat dimanfaatkan. Selain parkir, juga terdapat wc, ruang serbaguna (tatami), dan juga selasar atau jalan masuk menuju ke lantai dua. Pada dinding selasar dimanfaatkan menjadi kabinet-kabinet tempat penyimpanan barang yang serbaguna. Selasar yang sepanjang 22 meter di lantai dasar cukup panjang dan  memiliki cabang yang mengarah ke ruang serbaguna dan hall. Hall pada ujung bangunan mengarah ke taman di belakang rumah serta tangga spiral untuk akses ke lantai dua.


Menaiki tangga spiral menuju lantai dua, maka tiap ruangan diatur secara linear berurutan. Mulai dari ruang keluarga, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan ruang tidur.  Aktivitas yang dilakukan di ruangan sempit bukan berarti menjadikan kita tidak nyaman. Semua besaran unit ruangan adalah standar yang sama bahkan jika diterapkan pada lahan yang luas sekalipun. Hanya saja tiap-tiap ruangan yang ada telah ditata secara paralel (berjejer) yang disesuaikan kondisi site.



Ruangan yang sempit akan sangat terasa pengap. Oleh karena itu perlu diatur pencahayaan dan penghawaan alami dengan cara membuat bukaan-bukaan pada dinding dan atap. Bisa juga dilakukan dengan cara membuat void kecil yang memungkinkan sirkulasi udara mengalir lancar ke lantai dua sekaligus menambah penerangan. 



Dalam ruangan yang sempit sebaiknya menghindari penggunaan banyak partisi yang masif atau dinding pembatas. Untuk ruangan yang sangat pribadi seperti kamar mandi, walaupun ruangannya tetap tertutup, namun kita dapat menempatkan partisi kaca yang transparan sebagai pembatas di selasar ruangan. Partisi kaca mampu membatasi area kamar mandi yang lembab dan basah namun tetap dapat meneruskan view ke arah luar, sehingga ruangan tampak lebih luas dan terang.


Meskipun sempit, namun jangan semua lahan yang ada ditutup untuk didirikan bangunan. Sisakan kurang lebih 20% sebagai area terbuka sebagai taman untuk memperindah lingkungan dan tempat resapan air. Taman yang dibuat mampu memaksimalkan sinar matahari serta sirkulasi udara yang baik ke dalam rumah. 


1 komentar:

  1. bagus bagus desain nya , sangat menarik sekali

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...